Minggu, 09 Januari 2011
Sistem Religi Suku Dayak di Kalimantan Tengah
Sejak awal kehidupannya, orang Dayak telah memiliki keyakinan yang asli milik mereka, yaitu Kaharingan atau Agama Helo/helu/. Keyakinan tersebut, menjadi dasar adat istiadat dan budaya mereka. Agama Helo/helu/ atau Kaharingan hingga saat ini masih dianut oleh sebagian besar orang Dayak, walau pada kenyataannya, tidak sedikit orang Dayak yang telah menganut agama Islam, Kristen, Katholik. Demikian pula tidak semua penduduk pedalaman Kalimantan adalah orang Dayak, karena telah berbaur dengan penduduk dari berbagai suku akibat perkawinan dan berbagai sebab lain. Walaupun demikian, tradisi lama dalam hidup keseharian mereka masih melekat erat tidak hanya dalam bahasa, gerak-gerik, symbol, ritus, serta gaya hidup, namun juga dalam sistem nilai pengartian dan pandangan mereka dalam memaknai kehidupan.
Suku Dayak Dan Kepercayaannya
Awal mulanya suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah sudah memeluk agama dari kepercayaan roh leluhurnya, di mana agama tersebut merupakan percampuran antara animisme dan dinamisme. Sehingga agama tersebut lebih dikenal dengan nama agama Kaharingan.
Dalam sejarahnya, dituliskan bahwa suku Dayak tidak hanya berhubungan dengan kelompoknya sendiri. Akan tetapi telah banyak berhubungan dengan suku – suku lainnya seperti Bugis, Jawa, Banjar, Cina, dan lainnya. Melalui hubungan tersebut, adanya pengaruh – pengaruh yang diserap baik dari bahasa, adat istiadat, dan agama. Ambil contoh, suku Dayak yang berada di daerah pesisir pantai Kalimantan Tengah sudah lama menganut agama Islam. Demikian halnya dengan suku Dayak lainnya. Semenjak kedatangan bangsa Eropa ke Kalimantan, telah banyak masyarakatnya yang menganut agama Kristem, baik yang Kristen Protestan ataupun yang Katolik. Akibat percampuran tersebut, maka suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah tidak hanya hidup dalam satu lingkupan saja. Akan tetapi semenjak dulu, suku Dayak telah hidup dalam keanekaragaman, baik mereka yang menganut kepercayaan para leluhur atau dari agama suku bangsa lain. Walaupun adanya perbedaan dalam kepercayaan, diantara mereka telah tertanam sikap untuk hidup saling pengertian dan saling menghargai satu sama lainnya. Dan ini semuanya telah ada dalam satu wadah untuk hidup bersama dalam kerukunan yang disimbolkan ke dalam Huma Betang.
Meskipun sebagian dari masyarakatnya sudah memeluk agama modern, mereka masih mempercayai hal – hal yang sifatnya gaib, sakti, dan magis. Kesusahan, malapetaka, bencana, dan lainnya, dianggap sebagai murka atau kurang terpenuhinya permintaan dari roh – roh gaib. Sebagai wujudnya, mereka meminta tolong kepada orang – orang yang mampu untuk menenangkan roh – roh tersebut. Biasanya hal tersebut dilakukan dalam sebuah upacara sakral seperti Upacara Tiwah, Upacara Wara di daerah Barito, Upacara Mangayau Danum, Upacara Manggoru, dan upacara lainnya. Dan biasanya hanya orang – orang tertentu saja yang mengerti dan memahami agama Kaharingan yang dapat melakukan upacara tersebut.
Walaupun sekarang suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah sudah banyak yang mengerti dan memeluk agama modern, namun keterikatan mereka pada agama leluhur masih tetap bertahan dan tidak dapat dilepaskan. Sebab, kepercayaan tersebut merupakan harta warisan dari para leluhur yang diberikan kepada anak cucunya.
Dalam sejarahnya, dituliskan bahwa suku Dayak tidak hanya berhubungan dengan kelompoknya sendiri. Akan tetapi telah banyak berhubungan dengan suku – suku lainnya seperti Bugis, Jawa, Banjar, Cina, dan lainnya. Melalui hubungan tersebut, adanya pengaruh – pengaruh yang diserap baik dari bahasa, adat istiadat, dan agama. Ambil contoh, suku Dayak yang berada di daerah pesisir pantai Kalimantan Tengah sudah lama menganut agama Islam. Demikian halnya dengan suku Dayak lainnya. Semenjak kedatangan bangsa Eropa ke Kalimantan, telah banyak masyarakatnya yang menganut agama Kristem, baik yang Kristen Protestan ataupun yang Katolik. Akibat percampuran tersebut, maka suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah tidak hanya hidup dalam satu lingkupan saja. Akan tetapi semenjak dulu, suku Dayak telah hidup dalam keanekaragaman, baik mereka yang menganut kepercayaan para leluhur atau dari agama suku bangsa lain. Walaupun adanya perbedaan dalam kepercayaan, diantara mereka telah tertanam sikap untuk hidup saling pengertian dan saling menghargai satu sama lainnya. Dan ini semuanya telah ada dalam satu wadah untuk hidup bersama dalam kerukunan yang disimbolkan ke dalam Huma Betang.
Meskipun sebagian dari masyarakatnya sudah memeluk agama modern, mereka masih mempercayai hal – hal yang sifatnya gaib, sakti, dan magis. Kesusahan, malapetaka, bencana, dan lainnya, dianggap sebagai murka atau kurang terpenuhinya permintaan dari roh – roh gaib. Sebagai wujudnya, mereka meminta tolong kepada orang – orang yang mampu untuk menenangkan roh – roh tersebut. Biasanya hal tersebut dilakukan dalam sebuah upacara sakral seperti Upacara Tiwah, Upacara Wara di daerah Barito, Upacara Mangayau Danum, Upacara Manggoru, dan upacara lainnya. Dan biasanya hanya orang – orang tertentu saja yang mengerti dan memahami agama Kaharingan yang dapat melakukan upacara tersebut.
Walaupun sekarang suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah sudah banyak yang mengerti dan memeluk agama modern, namun keterikatan mereka pada agama leluhur masih tetap bertahan dan tidak dapat dilepaskan. Sebab, kepercayaan tersebut merupakan harta warisan dari para leluhur yang diberikan kepada anak cucunya.
Sistem Kekerabatan Masyarakat Dayak Bidayuh
Kerabat dalam Suku Dayak Bidayuh pada saat Upacara Nyobeng
Dari ketiga dasar persekutuan tersebut, dapat dikatakan bahwa hubungan genealogis merupakan dasar “sistem kekerabatan”[2]. Konsepsi kekerabatan atau kelompok kekerabatan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Adanya rasa kepribadian kelompok yang disadari oleh warga-warganya.
b. Terjadinya aktivitas-aktivitas berkumpul yang dilakukan secara berulang-ulang.
c. Adanya sistim kaedah-kaedah yang mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang mengatur interaksi sosial antara warga-warga kelompok tersebut.
d. Terdapatnya pimpinan yang mengatur dan mengawasi kegiatan-kegiatan kelompok.
e. Kemungkinan adanya sistem dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari warga-warga masyarakat tertentu terhadap sejumlah harta produktif, harta konsumtif dan harta pusaka.[3]
Salah satu bentuk utama dari kelompok kekerabatan korporatif (corporate kingroups) adalah keluarga batih (nuclear familiy). Keluarga batih terdiri dari seorang suami, seorang isteri dan anak-anaknya yang belum menikah termasuk di dalamnya juga anak tiri atau anak angkat walaupun hak dan kewajibannya berbeda dengan anak kandung. Berbeda dengan keluarga batih, keluarga luas terdiri dari lebih satu keluarga tetapi tetap satu garis keturunan (genealogis).
Keluarga batih merupakan bentuk universal dari kelompok kekerabatan korporatif. Sedangkan yang tidak universal sifatnya dibedakan menjadi dua, yaitu:
- Kelompok yang menarik garis dengan mengambil seorang tokoh atau satu keluarga yang masih hidup sebagai pusat. (dapat juga disebut sebagai sistem kekerabatan)
- Kelompok yang menarik garis dengan mengambil nenek moyang tertentu sebagai patokan hubungan kekerabatan (dapat pula disebut sebagai sistem keturunan).
Dalam hubungan genealogis sebagai dasar terbentuknya sistem kekerabatan, susunan keluarga dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu:
- Susunan keluarga menurut garis keturunan pihak bapak (patrilineal);
- Susunan keluarga menurut garis keturunan pihak ibu (matrilineal);
- Gabungan dari patrilineal dan matrilineal (parental).
Sejalan dengan itu Koentjaraningrat (1980 : 137) menyebutkan bahwa sistem istilah kekerabatan dalam hubungan kekerabatan mempunyai hubungan erat dengan sistem kekerabatan dalam suatu masyarakat. Dipandang dari sudut cara pemakaian istilah-istilah kekerabatan pada umumnya, maka tiap bahasa mempunyai dua macam sistem istilah, yaitu istilah menyapa (term of addrees) dan istilah menyebut (term of reference). Istilah menyapa dipakai untuk memanggil seseorang kerabat apabila ia berhadapan dengan kerabat tadi dalam hubungan pembicaraan langsung. Sebaliknya istilah menyebut dipakai seseorang apabila ia berhadapan dengan orang lain, berbicara tentang seorang kerabat sebagai orang ketiga.
Apabila dikaitkan dengan pendapat tersebut di atas, maka dalam hubungan kekerabatan bagi masyarakat Dayak Bidayuh terdapat juga istilah-istilah kekerabatan. Pada masyarakat Dayak Bidayuh istilah kekerabatan tentang menyapa, di dalam pergaulan sehari-hari banyak dipengaruhi oleh adat sopan santun maupun adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakat. Adapun bagaimana adat sopan santun pergaulan itu dijalankan dalam kehidupan masyarakat Dayak Bidayuh dapat dilihat dengan cara mengobservasi masyarakat Dayak Bidayuh itu sendiri, mengenai cara bergaulnya dengan tiap kelas kerabat-kerabatnya. Misalnya bagaimana seseorang berlaku dan bersikap terhadap anak-anak dan istrinya, terhadap ayah dan ibunya, terhadap paman-pamannya dan bibi-bibinya baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Begitu juga terhadap saudara-saudara sepupunya baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Selain itu terhadap nenek-neneknya, cucu-cucunya, mertua-mertuanya, ipar-iparnya, menantu-menantunya dan sebagainya.
Dalam masyarakat Dayak Bidayuh kelakuan dan sikap terhadap kelas-kelas kerabat itu berbeda-beda. Disamping itu adat sopan santun yang menentukan kepada siapakah orang harus bersikap menghormati dan kepada siapakah orang bisa bersikap bebas, sehingga berbeda satu dengan yang lain. Bagi orang yang masih muda harus lebih hormat kepada yang lebih tua, sebaliknya orang yang lebih tua hendaknya memberikan contoh atau teladan kepada yang masih muda.
Sistem kekerabatan dalam keluarga Dayak Bidayuh sangat ditentukan oleh garis keturunan, yang menjadi pengikat hubungan orang per orang dalam satu keluarga. Garis keturunan dalam pengertian yang kita maksudkan di sini ialah yang mengandung makna dan bersumber dari silsilah keturunan. Artinya semakin jauh jarak keturunan, maka semakin jauh pula purusnya.
Garis keturunan yang paling dekat adalah antara ayah, ibu dan anak kandung serta nenek kakek dan cucu-cucu yang masih terdiri dari satu garis keturunan. Kemudian saudara sepupu yang terdiri dari sepupu satu kali, sepupu dua kali yakni mereka yang masih bersaudara ayah atau ibunya serta bersaudara paling dekat atau boleh disebut sebagai keluarga inti. Biasanya mereka ini masih hidup dalam satu keluarga besar, yakni terdiri dari ayah, ibu, nenek dan kakek serta anak-anak dan cucu-cucu. Namun ada juga yang hidup dengan buyut dan cicit-cicit namun jumlahnya sangatlah terbatas.
Dalam sistem kekerabatan suku Dayak Bidayuh seseorang boleh bebas mengambil calon teman hidupnya artinya boleh dalam lingkungan suku itu sendiri (endogamy) maupun di luar sukunya (exogam). Perkawinan dalam tingkat hubungan keluarga atau hubungan darah dilarang, misalnya antara sudara sekandung (incest), antara sepupu yang ayah-ayahnya adalah saudara sekandung (patripararel cousin). Pelangaran dalam hal ini termasuk hal yang berat karena menurut kepercayaan orang dari suku ini bahwa roh-roh ghaib tentu akan murka dan mendatangkan bencana dan harus dihapus dengan upacara adat.
Tanggung jawab keluarga dalam suatu rumah tangga adalah pada ayah dan ibu, yaitu ayah akan bertanggung jawab pada masalah-masalah yang ada di luar rumah, misalnya ke ladang, gotong royong dan sebagainya. Sedangkan ibu bertanggung jawab pada masalah-masalah yang berhubungan dengan keadaan di dalam rumah. Dari sini jelas dapat dilihat bahwa pada masyarakat Suku Dayak Bidayuh telah mengenal sistem pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan.
Minggu, 02 Januari 2011
Pulau Bali / Pulau Dewata – Indonesia
Pulau Bali adalah salah satu pulau di Indonesia yang lebih dikenal sebagai pulau Dewata, Pulau bali merupakan juga salah satu provinsi Indonesia. Pulau Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok.
Luas wilayah Provinsi Bali adalah 5.636,66 km2 atau 0,29% luas wilayah Republik Indonesia. Secara administratif Provinsi Bali terbagi atas 9 kabupaten/kota, 55 kecamatan dan 701 desa/kelurahan.
Pulau Bali merupakan bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25?23? Lintang Selatan dan 115°14?55? Lintang Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.
Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya.
Bali selain terkenal sebagai tempat pariwisata, pulau tersebut juga terkenal dengan hasil buminya yaitu Pohon Jati yang oleh dunia di kenal sebagai Teak sebagai bahan baku pembuatan furniture
Tempat-tempat wisata yang penting di Bali adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar. Bali terkenal juga karena Pantai-pantainya yang indah seperti Kuta, Sanur,Legian, Turban, Jimbaran, Nusa dua, Lembongan, Amed dan Tulamben, Padang bai, Tanah Lot, Lovina, Uluwatu/Padang Padang, medewi. Serta lainnya seperti Istana Tampaksiring, Pura Besakih, Garuda Wisnu Kencana, Kintamani, Sangeh, Tenganan, Candi Dasa.
Sistem Teknologi Suku Bangsa Bali
C. TEKNOLOGI
Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.
Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.
Selasa, 14 Desember 2010
Kampung Naga, Kampung Yang Masih Memegang Tradisi Leluhur
di Kampung Naga
Mengunjungi Kampung Naga memang memiliki keunikan tersendiri. Melihat dari dekat kehidupan sederhana dan bersahaja yang masih tetap lestari di tengah peradaban modern.
Hari Selasa, Rabu, dan Sabtu adalah hari pantangan bagi masyarakat Kampung Naga untuk membicarakan berbagai hal tentang tradisi mereka. Selain pada hari pantangan tersebut, kita bisa berinteraksi dengan mereka dengan lebih leluasa.
Kampung Naga secara administratif terletak di kampung Legok Dage, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Terletak persis di samping jalan raya Tasikmalaya-Garut dari rute Tasikmalaya-Bandung, membuat kampung ini mudah dicapai.
Untuk menuju ke sini bisa ditempuh dari 2 arah, dari Garut atau dari Tasikmalaya, karena kampung ini terletak di “tengah-tengah” perbatasan kedua kota, sekitar 30 km dari Tasikmalaya dan 26 km dari Garut.
Dari Jakarta, saya menuju Garut dengan menggunakan bus Primajasa dari Terminal Lebak Bulus dengan ongkos 35 ribu rupiah. Bila naik yang jurusan Tasikmalaya, ongkosnya 40 ribu rupiah.
Pertimbangan saya, dari Kampung Naga, saya akan meneruskan perjalanan ke Tasikmalaya, sehingga bila berangkat dari Garut lebih mangkus. Apalagi entah kenapa bus-bus jurusan Tasikmalaya yang biasanya pating tlecek di Terminal Lebak Bulus, saat itu tidak ada sama sekali.
Dari Terminal Guntur, Garut, saya melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Elf (colt diesel) tujuan Garut-Tasikmalaya dengan ongkos 20 ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu sekitar 1-2 jam tergantung kecepatan Elf (sering ngetem menunggu penumpang atau tidak). Ongkos dan waktu tempuh juga hampir sama jika menempuh dari Tasikmalaya.
Jika dari Bandung, gunakan minibus kecil jurusan Bandung-Tasikmalaya. Namun tanyakan dulu apakah bus tersebut melewati Kampung Naga atau tidak.
Jalan berkelok menyusuri bukit adalah jalur yang kami lewati. Saking penuhnya Elf, beberapa penumpang bahkan sampai duduk di atas atap Elf. Saya ndak bisa membayangkan gimana rasanya berada di atap ketika Elf menukik dan berkelok menyusuri tepian jurang.
Gerbang Kampung Naga
Seorang penduduk memanggul batu kali untuk dijual
Apalagi tidak ada pagar yang bisa dipakai untuk pegangan, membuat pengunjung harus lebih berhati-hati.
Beberapa penduduk Kampung Naga tampak sedang mendaki naik untuk keluar dari Kampung Naga dan melakukan aktivitas di luar. Seorang bapak yang saya sapa bahkan sedang memanggul batu kali untuk dijual.
Separo perjalanan, dari jauh sudah terlihat deretan rumah berwarna putih beratap hitam menyembul dari kaki bukit dan sawah. Sungai Ciwulan dengan air deras berwarna kecoklatan yang mata airnya berasal dari Gunung Cikuray, Garut, mengapit desa.
Masyarakat Kampung Naga memang menggantungkan hidup dari pertanian dan sungai. Saya jadi teringat sejarah bahwa peradaban manusia lahir di lembah sungai.
Sebuah jalan semen nampak jelas menjadi jalan utama menuju gerbang masuk Kampung Naga.
Jalan utama menuju Kampung Naga
Mereka sangat mempercayai hal-hal mistis sehingga ada lokasi-lokasi yang dikeramatkan, antara lain hutan adat yang terletak di sebelah barat di mana di sana terdapat makam para leluhur mereka.
Banyak versi yang menceritakan sejarah Kampung Naga, namun tidak ada catatan resmi karena dokumen-dokumen sejarah kampung ini musnah ketika serangan pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.
Namun versi yang populer adalah pada masa kewalian Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang muridnya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah barat hingga mencapai daerah Neglasari (Kampung Naga sekarang).
Awalnya penduduk di sana memeluk agama Hindu yang berasal dari kerajaan Pajajaran, namun akhirnya memeluk agama Islam yang dibawa oleh Singaparana. Sembah Dalem Singaparana inilah yang kemudian menjadi leluhur dan sosok yang dihormati oleh masyarakat Kampung Naga.
Nama “Kampung Naga” sendiri diduga berasal dari kata “Kampung Nagawi”, yang kemudian lebih sering disebut dengan “Kampung Naga”.
Meski semua penduduk beragama Islam, namun tata cara peribadatan mereka berbeda dengan umat Islam pada umumnya. Misalnya, mereka melakukan sholat hanya pada hari Jumat. Juga beberapa hari besar agama Islam juga mereka terapkan yang diberi nama Hajat Sasih. Pengaruh Hindu masih kuat terasa.
Rumah-rumah di Kampung Naga
Perabotan rumah tangga semacam kursi dan meja tidak diperkenankan, apalagi peralatan elektronik seperti televisi, radio dan sebagainya. Bahkan mereka menolak pemasangan listrik di kampung mereka.
Di depan rumah biasanya terdapat semacam teras atau serambi kecil yang digunakan untuk melakukan aktivitas dan berinteraksi dengan sesama penduduk. Ketika saya datang, saya melihat sekelompok warga sedang memilah-milah semacam tanaman akar (herbal) yang diambil dari kebun.
Saya tidak mengetahui secara pasti akar apa yang mereka ambil, karena mereka berbicara dalam bahasa Sunda yang saya sama sekali tidak mengerti. Saya hanya mengira-ira saja apa arti dari jawaban mereka ketika saya tanya.
memilah akar tanaman obat
Mereka sepertinya sudah terbiasa dengan para wisatawan, sehingga mereka cenderung cuek dan tetap menjalani kehidupan seperti biasa ketika ada wisatawan yang berlalu-lalang di sekitarnya.
Menginap di kampung ini pun bisa, namun kita harus siap dengan segala konsekuensi, misalnya ketiadaan perabotan dan listrik yang biasanya menjadi keseharian kita plus kita harus mematuhi aturan dan pantangan yang berlaku.
Di setiap rumah tidak terdapat kamar mandi. Aktivitas MCK dilakukan di pemandian umum yang terdapat di bagian depan kampung yang dekat dengan sungai. Terdapat kolam-kolam di sekitar pemandian yang digunakan untuk beternak ikan. Kandang-kandang kambing dan sapi juga berada di depan sehingga tidak mengganggu perkampungan.
Di bagian paling atas terdapat sebuah lapangan dan masjid agung. Terdapat sebuah bedug unik yang terbuat dari sebatang kayu yang dilubangi tengahnya.
Masjid Agung Kampung Naga
Suvenir khas ini dijual di beberapa rumah dan bisa ditemukan di kios-kios suvenir di pelataran parkir. Saya tertarik dengan sebuah tas anyam-anyaman dari akar. Saya pun membelinya dengan harga 35 ribu rupiah di sebuah kios di samping masjid. Dengan membeli suvenir ini saya berharap bisa membantu ekonomi masyarakat lokal.
Suvenir kerajinan Kampung Naga
Karena tata letak rumah yang berundak di kaki lembah, saya sering menemukan ayam-ayam peliharaan penduduk sedang asyik nongkrong di atap rumah. Kandang-kandang ayam biasanya diletakkan di bagian bawah rumah.
Puas menikmati suasana, saya pun meninggalkan kampung ini. Saya dengan susah payah dan terengah-engah melahap tanjakan curam.
Penduduk yang dengan santai meniti sengked (anak tangga) terlihat senyum-senyum melihat tampang saya yang kelelahan ketika beristirahat sejenak.
Foto-foto lain bisa dilihat di halaman Flickr saya.
Kamis, 02 Desember 2010
Kampung Naga Tasikmalaya
Indotoplist.com : Kampung Naga merupakan perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih 4 ha. Lokasi obyek wisata Kampung Naga terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya - Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke 30 ke arah Barat kota Tasikmalaya. | |
Kampung Naga dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan Ieluhumya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat. Secara administratif Kampung Naga termasuk kampung Legok Dage Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari Kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah ditembok (Sunda sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga. Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali. Daya tarik obyek wisata Kampung Naga terletak pada kehidupan yang unik dari komunitas yang terletak di Kampung Naga tersebut. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyrakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memlihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besr Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan Wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan disana. Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga. Obyek wisata ini merupakan salah satu obyek wisata budaya di Tasikmlaya Wisatawan biasanya memiliki minat khusus yaitu ingin mengetahui dan membuktikan secara nyata keadaan tesebut. Pengembangan obyek wisata Kampung Naga termasuk dalam jangkuan pengembangan jangka pendek. | |
Sejarah/asal usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. | |
Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga "Sa Naga" yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya. Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga. Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti: Pangeran Kudratullah, dimakamkan di Gadog Kabupaten Garut, seorang yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam. Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, dimakamkan di Taraju, Kabupaten Tasikmalaya yang mengusai ilmu kekebalan "kewedukan". Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, dimakamkan di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, menguasai ilmu kekuatan fisik "kabedasan". Pangeran Mangkubawang, dimakamkan di Mataram Yogyakarta menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan. Sunan Gunungjati Kalijaga, dimakamkan di Cirebon menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian. | |
Langganan:
Postingan (Atom)